Hidup Tidak Selalu Mudah
“Ta, maapin gua ya, kalo ade salah-salah kate,” Romi, pemuda Betawi yang mengadu nasib sebagai petugas sekuriti di kantor saya, tampak berusaha keras menampilkan wajah ceria ketika kami berpapasan di lobby bawah siang kemarin.
“Loh Rom? Udah keluar pengumumannya?”
“Udeeeh. Makanya gw mo maap-maapan nih.”
“Tapi kan diperpanjang Rom? 6 bulan sampe Desember.”
“Apaan? Per tanggal 1 Juli, semua satpam sama supir diganti dari otsors kok! Mana baru dikasitau kemaren lagi. Bulan depan, anak bini gw makan apa coba Ta?”
Saya terdiam membayangkan putranya yang baru berumur 2 bulan. Kemudian, “Tabah ya Rom, gw doain loe bakal cepet dapat kerjaan baru.”
Romi cuma satu dari sekian banyak sekali petugas sekuriti dan supir di lembaga ini yang ikut di-PHK terhitung tanggal 1 Juli besok. Banyak sekali persyaratan yang harus mereka lewati. Saya berani bertaruh, mereka pasti menganggap hidup yang mereka jalani menjadi tidak adil saat ini.
Sekitar sebulan yang lalu, para petugas sekuriti ini diharuskan mengikuti assessment untuk menilai apakah mereka cocok bekerja di lembaga ini. Karena tingkat pendidikan minimal dan umur maksimal menjadi syarat untuk mengikuti assessment ini, akhirnya banyak yang tak bisa ikut. Yang tak bisa ikut ini sudah pasti tidak diperpanjang kontraknya.
Yang ikut dan dinyatakan tidak sesuai untuk bekerja di lembaga ini, tidak diperpanjang juga.
Yang ikut dan dinyatakan sesuai (ternyata hanya 2 orang), harus mengikuti Tes Kesehatan dulu. Jika lolos, akan diwawancara oleh pimpinan. Jika dinyatakan diterima oleh pimpinan, harus melewati masa percobaan selama 3 bulan, barulah menjadi pegawai tetap.
Mungkin ini hal yang biasa bagi seorang pegawai di tempat kerja baru. Tapi mereka inikan sudah mengabdi di lembaga ini selama bertahun-tahun. Belum selesai masalahnya disitu, ternyata setelah masa percobaan mereka akan ditempatkan di pekerjaan lain selain petugas sekuriti dan supir.
“Aduh Ta, saya jadi satpam sejak tahun 88, belum pernah megang komputer. Megang sih pernah, tapi sama sekali buta bagaimana cara makainya. Sekarang mau diterima tapi disuruh kerja pake komputer. Nanti kalo di evaluasi ternyata pekerjaan saya ngga memuaskan, saya diberhentikan juga,” ucapan salah satu dari 2 petugas sekuriti yang diterima itu melemah di ujung kalimat.
“Tenang dulu Pak. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar.”
Susah semua kan?
Untung saya masih bisa tetap mengimani bahwa saya tidak pernah dijanjikan akan memperoleh hidup yang mudah, tapi saya tahu bahwa saya tidak akan pernah sendiri dalam menghadapi segala kesusahan. Mudah-mudahan Bapak-Bapak itu, ketika pulang dan menemui bahwa anaknya akan masuk SMA bulan depan, bahwa bayinya mulai sesak dengan baju di badannya, bahwa istrinya akan melahirkan sebentar lagi, bisa mengimani hal yang sama yang masih berusaha saya pegang kuat-kuat hingga saat ini, God is too cool to make mistakes.
Kontrak perpanjangan masa kerja saya belum keluar, mungkin mundur seminggu. Tapi saya tahu, bahwa itu akan menjadi kontrak terakhir yang akan saya tandatangani di lembaga ini.
