Living in Sin

July 28, 2005

Kata Erly Tentang Genre

Filed under: Writings

Teman saya, Erly Bahsan, (saya paksa) menanggapi tulisan sebelumnya, “Tentang Genre“. Begini kata Erly :

Genre buat gue gak penting. Sebuah karya yang bagus -apa saja, tulisan, lagu, lukisan, bahkan penemuan- harus lahir dari mimpi2 yang bebas dan liar. Kita gak bisa berkarya denga bagus bila dari awal perjalanan kita sudah masuk kotak2. Biarin aja dulu pikiran dan ide2 bermunculan liar, dan pekerjaan selanjutnya yang berat adalah merealisasikan ide2 itu dengan penuh dedikasi hingga jadi bentuk akhir yang nyata.

Kita gak pernah bisa naik pesawat terbang sekarang kalau dulu Wright bersaudara gak punya mimpi “gila banget” untuk bisa menerbangkan besi dan membawa manusia di dalamnya.

Ya, karya selalu bisa aja dibuat apabila kita mau mengkategorikan diri dalam salah satu kotak genre. Tapi itu akan cuma jadi karya yang biasa aja. Just an ordinary. Kalo di toko buku lagi2 cuma nambahin list2 buku dalam kategori rak yang ada.

Tapi akan lebih bagus lagi kalau kita bekerja dengan bebas sampai akhir yang baik, dan biarkan penikmat karya yang menilai. Dan mereka juga boleh aja memasukkan hasil itu dalam kotak2 genre. Itu memang kerjaannya pasar. Seorang kreator hanya berpikir bagaimana mewujudkan roh. Bukan berpikir tentang klasifikasi wujud. Bahkan Tuhan pun waktu menciptakan makhluknya gak pernah memberi klasifikasi. Manusia yang mengklasifikasikan dirinya sendiri.

Nah, sebelum terlalu panjang, sekali lagi gue cuma ingin ngasih pendapat bahwa genre itu memang ada, tapi itu bukan urusan kreator.

Hmm… well, ok.

July 27, 2005

2^5 - 3

Filed under: Life

ck ck ck…..

still fight the dragon inside

July 25, 2005

Tentang Genre

Filed under: Writings

“Aku lagi nyoba nulis chicklit nih. Susah juga ya…”
“Iyalah, harus gaul ! Btw, kamu kok jadi ikut-ikutan gitu sih ?”

Hmm.. belum sempat diperjelas lagi, sebenarnya apa arti kalimat itu.
Apakah seperti, “Btw, kamu kok jadi ikut-ikutan gitu sih ? Kamu kan ngga gaul, ngga bakalan mampu deh !”
Ataukah, “Btw, kamu kok jadi ikut-ikutan gitu sih ? Itukan bukan kamu banget. Kamu kan bukan tipe orang yang senang ikut-ikutan.”

Apa coba ?

Anyway, apakah untuk mulai menulis sesuatu itu, kita harus menentukan terlebih dulu, genre apa yang mau kita pakai ? Atau, adakah genre yang memang tidak cocok untuk orang-orang tertentu ?
Seperti begini, ada seorang teman, yang waktu aku ceritakan tentang genre Metropop & Chicklit, dia bilang, “Males ah, yang kayak gituan !”
Meanwhile, dia juga sedang menulis, katakanlah menulis sebuah novel. Dan dari draft-nya yang telah kubaca, hmm… what can I say. It’s sort of chicklit.

Atau memang susah bagi seseorang untuk mengakui bahwa tulisan yang dibuatnya, generally, ber-genre A atau B ? Misalnya ada kata-kata, “Ah, ngga gw banget tuh !”

Hmm.. ini membuatku sedikit bingung, hingga merasa perlu menulis e-mail untuk menanyakan hal ini pada seorang teman penulis. Well, masih draft sih.. Tapi setelah ini aku akan mengirimkannya.

Apakah genre itu penting ?
Apakah kita harus meng-genre-kan dulu sebuah draft baru kita lanjutkan supaya jelas bentuknya ?
Apakah kita harus malu, jika ternyata genre dari tulisan kita tersebut adalah genre ngga-gw-banget-tuh ?

Syukurlah, sebingung-bingungnya aku, aku masih tetap berusaha menyelesaikan tulisan-tulisanku. Genre-nya? Macam-macam. I have three in a row now. Ada yang berbau-bau chicklit, ada yang beraroma edukatif, yang satu lagi malah tentang keluarga.
Buatku, yang penting aku tahu essence dari tulisan-tulisan itu, yang penting aku bisa “hidup” dalam tulisan-tulisan itu. Dan jika aku kekurangan sumber, bertanyalah diriku pada mereka yang tahu. Or googling.

Terlepas dari masalah genre, yang penting kejujuran dalam menulis. Menulis apa yang mau kita tulis, tanpa harus bergantung pada lingkungan. Boleh atau tidaknya dipublikasi (jika ingin), ya tergantung publisher nya dong. Ada kata-kata yang ekstrim? Kan ada editor.

So, bagaimana menurut kalian tentang genre itu ?

July 19, 2005

Buat Elu

Filed under: Life

Hai, gimana kabar loe hari ini ?
Baik? Semakin baikkah?
Jangan memburuk dulu.
Please.

Gw sering banget kepikiran elu akhir-akhir ini. Saat-saat gw diem sendiri, pasti bayangan elu selalu ada di depan gw. Tapi bayangan-bayangan yang berbeda. Kadang-kadang yang kebayang adalah muka stupid elu waktu masa-masa SMP. Atau waktu elu masih kecil dan hobby nya nangis. Tapi yang paling sering terlintas adalah wajah loe akhir-akhir ini. Damn! Padahal bukan bayang itu yang gw mau liat.

Tau ga, gw dulu pernah jeles ke elu. Gw kan anak kesayangan bokap elu. Tapi pas bokap loe udah punya elu sendiri as his own child, ahhh… elu tuh menyebalkan banget buat gw.

Tapi tus, kita akhirnya bisa bersahabat juga waktu elu udah mulai SMP. Kagum aja ngeliat elu yang jarang ngomong, tiba-tiba jadi pinter banget main gitar, udah gitu anak band pula. Bangga banget tuh gw waktu itu.
Trus lagi, ngeliat seluruh lantai kamar loe yang elu ‘grafitti’ in. Waktu itu gw yakin banget, elo kalo ga jadi pemusik, pasti jadi graphic designer.

Tapi dunia yang waktu itu elu inapi sesaat, ternyata membuat hari ini gw menangis (..lagi. tiap hari gw nangisin elu, sialan!).

Gw lagi nulis panjang. Tulisan itu buat elu. Gw ngga tau, tulisan itu bakal selesai ga (inget cerita gw kan, tentang trauma gw mengakhiri tulisan ?)
Tapi biarpun ga selesai, itu buat elu.
Loe harus tau, bahwa gw sayang banget sama elu.

July 14, 2005

Mourn Morning

Filed under: Life, Heartbeat

Masih sangat pagi.
Dan gw ingin banget memaki-maki segala sesuatu yang lewat depan mata.
Semua terulang.
Sama.

Gw mau ini jadi berbeda.

July 13, 2005

Jalan Tuhan

Filed under: Life

Semalam.
“Butet sudah lahir. Hahaha.. aku jadi bapak! Aku jadi bapak!”

Hari ini.
“Butet sudah ngga ada. Terlalu banyak cairan.”

May God bless u and ur wife, Bang Hol.

Tuhan ada dimana-mana.
Yakini saja.
Walau banyak orang yang masih susah untuk yakin terhadap segala yang belum terlihat.

Makan !

Filed under: Life

Hari ini menu makan siang gw adalah nasi putih dengan lauk sayur daun singkong kering dan tempe bacem. Ditutup dengan juice Jambu.
Kemarin, nasi putih, ikan bawal dan lalapan, plus juice alpukat.

Untuk sarapan pagi, gw minum teh dan roti 2 tangkup (artinya 4 lembar).

Di kantor, gw mencanangkan “Say No To Coffee” untuk diri gw sendiri.
Entah akan bertahan berapa lama.

Sebelum sore, gw makan roti yang dibawa dari rumah.
Minum susu coklat.

Makan malam… sering ngga keburu.
Tapi setiap malam minimal roti kering 2 lembar dan susu coklat gelas besar.

Harus menu sehat, harus porsi besar.
Supaya berat badan gw naik.

July 12, 2005

No Title

Filed under: Writings

Dua hari dalam gundah.
Tapi aku memutuskan untuk lepas dari gundah dan menjadi bahagia. Aku akan menemuinya. Mengabarinya.
Hmmm.. dia pasti kaget. Memang sih, banyak masalah yang mesti kita hadapi sekarang. Tapi, aku ngga peduli. Aku bersamanya, dan itu adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Bukankah sudah seharusnya, sebuah keluarga selalu bersama ?

Aku pernah membuat kesalahan, membuat keluarga kecil kami terberai. Tapi takkan kuulang lagi. Yang dia inginkan adalah bersatu, dan itu yang akan kuperjuangkan. Aku rela melepas semua atribut yang kumiliki untuk bersama.

Tubuhku agak lemah sejak dua hari yang lalu. Selalu seperti ini dalam keadaan yang sama. Tapi aku ingin sekali menemuinya. Apalagi hari ini, tepat 19 bulan kami bersama. Sejak enam bulan yang lalu, kami tak pernah bersama di tanggal ini. Selalu ada masalah.

Hari ini, aku harus menemuinya, bersamanya, mengabarinya. Hari penting.

Kurogoh uang di kantongku, hanya tersisa 21 ribu rupiah. Duh, pasti ngga cukup. Hmm.. mungkin aku cukup naik angkot sekali lalu jalan kaki. Makan malam ? Ada kacang panggang yang sudah lama dibelinya, masih tersimpan dalam tasku.

Kita akan merayakan hari ini, Sayang.
Hatiku bernyanyi.

“Mau kemana Mbak ?” Suara Priyo membuyarkan lamunan indah itu.
“Mau ke tempat Lucas.”
“Bareng aku aja Mbak. Aku lewat situ juga kok.”
“Wah kebetulan Yo. Aku ikut ya. Trimakasih loh..”

Ada di rumah ngga ? Ada, ngga ada, ada, ngga ada, ada, ngga ada. Sepanjang jalan hatiku masih terus bernyanyi menanti pertemuan itu.

Perjalanan yang kutempuh ke rumahnya cukup cepat dengan menumpang motor. Tapi jalanannya buruk. Perutku agak memberontak. Ah, semoga dia ada, supaya ngga sia-sia perjalanan ini.

Kuketuk pintu perlahan. Sekali. Dua kali. Pasti tertidur. Aku mengetuk lebih keras. Pintunya terbuka, dia disana. Aku memeluknya. Jangan pergi dariku.

Ingin segera kubisikkan berita gembira itu. Tapi terpotong oleh acara kesayangan kami di televisi. Haha. Kami tertawa bersama.

Aku pamit. Berlama-lama, mencari waktu yang tepat untuk mengumumkan berita gembira itu.

Lalu dia bercerita.
Lalu aku berkeberatan.
Lalu dia marah.
Lalu dia semakin marah.
Lalu aku menangis.
Lalu dia tetap marah.
Lalu aku minta maaf
Lalu dia berkeputusan.
Lalu aku minta maaf.
Lalu dia diam.
Lalu aku berlalu.

Menatap lampu-lampu jalan Jakarta. Sudah kering airmataku. Mengapa selalu seperti ini ? Jika aku mengambil keputusan sekarang, apakah dia akan kembali menuduhku bahwa aku ngga mau mendengarkannya ? Dia pergi. Belum tentu mau tahu.

Apakah aku harus kembali memohon supaya dia melunakkan hatinya? Tapi tak sanggup lagi aku menerima makian dan hinaan darinya.

Kuambil bungkusan plastik berisi 5 test-pack berindikasi positif yang ingin kuperlihatkan padanya. Membuangnya begitu saja di jalan tol tempat bis ku melaju.

Aku kembali sendiri.
Jangan marah, bila kali ini aku kembali memutuskan untuk membawa janin dalam perutku pergi.
Menjauhimu.

July 11, 2005

Negeri Dongeng

Filed under: Life

Weblog ini sengaja dibuat untuk mengumpulkan dongeng untuk anak-anak. Akhir-akhir ini banyak sekali weblog yang isinya berupa cerita-cerita remaja dan orang dewasa. Hampir ngga ada, yang ditujukan untuk anak-anak.

Well, gw buat blog baru lagi. Aduh ampun jangan ditimpuk..
Ini blog khusus berisi dongeng. Lumayan kan buat emak-emak yang kehabisan dongeng buat anak-anaknya. Masalahnya belum ada yang ngisi. Gw juga lagi blank. Emang lagi nulis sih, tapi bukan dongeng anak-anak.

Ide itu muncul udah lama. Tapi gw masih takut-takut. Pas kemaren dilempar ke sebuah milis, ternyata lumayan banyak juga yang ngasih perhatian positif bahkan minta ikutan jadi kontributornya. Ok then, sudah ada beberapa orang yang di-invite. Kalo ada yang mau di invite juga, kirim email ke leonitaa@gmail.com ya.
Tapi musti kudu ngisi. Kalo boleh waktu daftar udah punya sesuatu untuk di posting.

July 8, 2005

Sabar

Filed under: Life, Social

Dalam hidup gw, sering gw diteror oleh macam-macam orang dengan macam-macam tujuan dan macam-macam gaya teror.

Ada yang cuma pengen kenalan. Ada yang merasa pacarnya ngelirik gw. Ada yang merasa gw adalah orang ketiga, padahal dialah orang ketiga. Ada yang disuruh sama temennya, malah end up temenan sama gw. Malah yang terakhir ini, gw belum tahu tujuannya, tapi rasanya orang ini ingin menguji kesabaran gw.

So, gw di sms-sms, ditelpon berkali-kali (hah ditelpon? di miskol doang tuh!), tus telling me cerita-cerita yang ngga nyambung sama kenyataan, tapi pada intinya selalu ingin bertemu dan menanyakan gw tinggal dimana.
Si pelaku ini sangat jauh hubungannya sama gw, dalam arti gw cuma kenal gitu doang, ngga ada terusannya. Kejadian gw kenalan sama dia pun sudah sangat lama, lebih dari setahun gw rasa.

Lalu kenapa gw dihubungi lagi ? Since gw ga pernah berhubungan, pasti kemungkinan gw buat salah sama dia sangat kecil dong. Setelah gw pikir-pikir pun, kayaknya gw ngga ada salah deh sama dia. Lah, malah waktu pertama kenal, pertama kali ketemu gw langsung kasih uang, karena dia lagi susah waktu itu.

Lalu salah gw apa ?
Sometimes I think, I look more beautiful when I hurt, so people just love to hurt me to enjoy my hurt face.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here