No Title
Dua hari dalam gundah.
Tapi aku memutuskan untuk lepas dari gundah dan menjadi bahagia. Aku akan menemuinya. Mengabarinya.
Hmmm.. dia pasti kaget. Memang sih, banyak masalah yang mesti kita hadapi sekarang. Tapi, aku ngga peduli. Aku bersamanya, dan itu adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Bukankah sudah seharusnya, sebuah keluarga selalu bersama ?
Aku pernah membuat kesalahan, membuat keluarga kecil kami terberai. Tapi takkan kuulang lagi. Yang dia inginkan adalah bersatu, dan itu yang akan kuperjuangkan. Aku rela melepas semua atribut yang kumiliki untuk bersama.
Tubuhku agak lemah sejak dua hari yang lalu. Selalu seperti ini dalam keadaan yang sama. Tapi aku ingin sekali menemuinya. Apalagi hari ini, tepat 19 bulan kami bersama. Sejak enam bulan yang lalu, kami tak pernah bersama di tanggal ini. Selalu ada masalah.
Hari ini, aku harus menemuinya, bersamanya, mengabarinya. Hari penting.
Kurogoh uang di kantongku, hanya tersisa 21 ribu rupiah. Duh, pasti ngga cukup. Hmm.. mungkin aku cukup naik angkot sekali lalu jalan kaki. Makan malam ? Ada kacang panggang yang sudah lama dibelinya, masih tersimpan dalam tasku.
Kita akan merayakan hari ini, Sayang.
Hatiku bernyanyi.
“Mau kemana Mbak ?” Suara Priyo membuyarkan lamunan indah itu.
“Mau ke tempat Lucas.”
“Bareng aku aja Mbak. Aku lewat situ juga kok.”
“Wah kebetulan Yo. Aku ikut ya. Trimakasih loh..”
Ada di rumah ngga ? Ada, ngga ada, ada, ngga ada, ada, ngga ada. Sepanjang jalan hatiku masih terus bernyanyi menanti pertemuan itu.
Perjalanan yang kutempuh ke rumahnya cukup cepat dengan menumpang motor. Tapi jalanannya buruk. Perutku agak memberontak. Ah, semoga dia ada, supaya ngga sia-sia perjalanan ini.
Kuketuk pintu perlahan. Sekali. Dua kali. Pasti tertidur. Aku mengetuk lebih keras. Pintunya terbuka, dia disana. Aku memeluknya. Jangan pergi dariku.
Ingin segera kubisikkan berita gembira itu. Tapi terpotong oleh acara kesayangan kami di televisi. Haha. Kami tertawa bersama.
Aku pamit. Berlama-lama, mencari waktu yang tepat untuk mengumumkan berita gembira itu.
Lalu dia bercerita.
Lalu aku berkeberatan.
Lalu dia marah.
Lalu dia semakin marah.
Lalu aku menangis.
Lalu dia tetap marah.
Lalu aku minta maaf
Lalu dia berkeputusan.
Lalu aku minta maaf.
Lalu dia diam.
Lalu aku berlalu.
Menatap lampu-lampu jalan Jakarta. Sudah kering airmataku. Mengapa selalu seperti ini ? Jika aku mengambil keputusan sekarang, apakah dia akan kembali menuduhku bahwa aku ngga mau mendengarkannya ? Dia pergi. Belum tentu mau tahu.
Apakah aku harus kembali memohon supaya dia melunakkan hatinya? Tapi tak sanggup lagi aku menerima makian dan hinaan darinya.
Kuambil bungkusan plastik berisi 5 test-pack berindikasi positif yang ingin kuperlihatkan padanya. Membuangnya begitu saja di jalan tol tempat bis ku melaju.
Aku kembali sendiri.
Jangan marah, bila kali ini aku kembali memutuskan untuk membawa janin dalam perutku pergi.
Menjauhimu.

*bikin musik buat backgroundnya*
Comment by richoz — July 12, 2005 @ 6:09 pm
sepertinya lagu deftones - my own summer cocok dg cerita ini…
i think god is moving its tongue
there are no crowds in the streets
and no sun in my own summer
Comment by its — July 12, 2005 @ 7:22 pm
*nyetel slipknot - despise.mp3*
Comment by Q — July 14, 2005 @ 10:02 am